Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Pengamat politik Adi Prayitno menilai rencana Presiden ke-7 RI Joko Widodo turun ke lapangan dan berkeliling Indonesia lebih mengarah pada konsolidasi kekuatan politik menjelang 2029.

Adi menyebut langkah Jokowi sulit dilepaskan dari kepentingan memperkuat PSI dan posisi politik Wakil Presiden Gibran Rakabuming.

Menurut Adi, narasi soal blusukan dan menyerap aspirasi merupakan gaya politik lama Jokowi yang kini tak lagi relevan diperdebatkan.

Adi menegaskan, pembicaraan tentang Jokowi saat ini selalu berkaitan dengan Ketum PSI Kaesang Pangarep dan Wapres Gibran.

Adi juga menilai agenda blusukan Jokowi berpotensi menimbulkan persepsi adanya kekuatan lain di luar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto jika dilakukan dengan memberi koreksi terbuka terhadap kebijakan pemerintah.

Ia menilai jika Jokowi memiliki masukan terhadap jalannya pemerintahan, komunikasi informal sebenarnya lebih efektif dan kondusif dilakukan secara langsung kepada Presiden Prabowo.

Meski demikian, Adi menegaskan aktivitas blusukan Jokowi bukan persoalan selama tidak memicu kegaduhan politik.

Adi juga menilai berbagai spekulasi soal Jokowi mengalami post power syndrome hanyalah bagian dari bumbu politik di ruang publik.



Bagaimana menurut Anda?

Saksikan selengkapnya di sini: https://youtu.be/50kDy7nyQHY



#jokowi #politik #pdip




Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/671463/pengamat-jokowi-konsolidasi-kekuatan-politik-untuk-ketum-psi-kaesang-dan-gibran-di-pemilu-2029
Transkrip
00:00Mas Adi, Mas Adi masih melihat bahwa turunnya Pak Jokowi nanti Juni itu benar-benar karena memang ada koreksi,
00:07karena bagaimanapun Pak Jokowi adalah pendukung Prabowo Gibran, ada keperlanjutan,
00:13atau memang betul-betul ya semata-matanya untuk PSI ini pertaruhan nih kalau PSI gak lolos ke parlemen,
00:19wajah Jokowi muter di mana?
00:20Kalau saya justru lebih condong ke arah bagaimana mengonsolidasi kekuatan-kekuatan politik Pak Jokowi
00:26supaya terasosiasi dengan PSI dan Gibran Akebuming Raka,
00:30bahwa ini adalah negarawan, kebangsaan, menyerap aspirasi, belusukan, memang ini adalah style politik Pak Jokowi,
00:38saya kira itu adalah perdebatan-perdebatan Masa Lampau dan saya kira sudah begitu banyak yang menulis itu
00:42dalam naskah, dalam judul, dan bahkan dalam jurnal-jurnal, tapi bicara itu kembali bagi saya gak relevan Mas Yogi,
00:49karena kalau kita bicara Jokowi hari ini adalah bicara tentang bagaimana Jokowi identik dengan PSI,
00:54ketua umumnya adalah Mas Kaisang, bicara tentang Jokowi hari ini adalah bicara tentang bagaimana ada Gibran,
00:59sebagai Wakil Presiden yang tentu di 2029 posisinya gambling, satu sisi tentu harapan terbesarnya,
01:05bisa dua periode dengan Pak Prabu Subianto, tapi kalau kemudian skenario terburuknya tidak dua periode dengan Pak Prabu,
01:12what's next?
01:13Ini harus disiapkan ya Anda mau katakan?
01:16Kan itu yang diperbincangkan oleh publik bahwa di situ ada diskusi.
01:18Kalau nanti turun katakanlah, kemudian ada eksposur pemberitaan, ada hal-hal yang disampaikan,
01:23misalnya koreksi soal pelaksanaan MBG, koreksi soal pelaksanaan Koperasi Merah Putih,
01:27itu akan mempengaruhi hubungan Jokowi?
01:30Kalau itu disampaikan secara terbuka, pastinya akan mempengaruhi hubungan politik.
01:35Tapi kalau disampaikan telepon-teleponan, WAWA-an, citatan...
01:39Kalau berusukan rasanya nggak mungkin ditertutup ya?
01:41Ya saja, berusukan itu tidak perlu yang ada dirisaukan.
01:45Kori kalau berusukan itu aneh-aneh gitu ya, menimbulkan kejolak dan instabilitas.
01:49Kalau berusukannya hanya ketemu dengan kader-kader partai, dengan relawan,
01:53kemudian makan-makan bersama, selfie-selfie, diskusi, nggak ada soal.
01:58Bagus malah, semakin memperbanyak seperti itu.
02:00Tapi yang bikin ramai dengan rencana berusukan Pak Jokowi, ini kan banyak variabelnya mas.
02:06Oh ini Pak Jokowi post power syndrome,
02:07Oh ini Pak Jokowi katanya mau pensiun, udah nggak jadi lagi presiden.
02:12Nggak taunya ini konsolidasi dan seterusnya.
02:14Itu kan bumbu-bumbu.
02:15Saya tidak terlampau suka berdiskusi yang gimmick-gimmick kayak gitu.
02:19Semua orang pasti suka dengan gimmick.
02:21Semua orang pasti punya post power syndrome.
02:23Bukan hanya Pak Jokowi.
02:24Tapi saya ingin bicara tentang sejak 2026 pertengahan ini,
02:282029 yang akan datang,
02:30kalau masih bicara tentang personifikasi politik Pak Jokowi,
02:33saya pasti tidak akan melepaskan bahwa disitu ada Gibran,
02:36dan disitu ada PSI yang ketua menyerah Kaisang.
02:39Sesederhana seperti itu.
02:40Dan ada PDI Perjubangan sebagai rumah lama yang tadi sudah sampaikan.
02:43Saya kira sesederhana itu.
02:44Karena kalau kita mau jujur sebenarnya,
02:46kan dulu ada program lapor Mas Wapre.
02:48Kenapa itu tidak diamplifikasi?
02:50Kan aduan-aduan itu yang kemudian signifikan
02:53datang dari daerah secara officially apa persoalannya.
02:56Dan itu jauh lebih efektif sebenarnya untuk memperbaiki
03:00semua kebijakan-kebijakan yang menurut Mas Bro Freddy ini
03:03compang-camping terkait dengan program-program strategis pemerintah.
03:06Ketimbang belusukan, nanya masalah, kan kesannya.
03:10Ingin menimbulkan ada matahari lain di luar yang ada saat ini.
03:13Kan itu yang kemudian orang rame, Mas.
03:15Jadi kalau sebagai sahabat dan kawan ada sesuatu yang sekarang oke,
03:20telepon-teleponan tiap malam kan oke.
03:22Menyampaikan sesuatu.
03:23Itu jauh lebih kondusif dibandingkan dengan yang menurutnya.
03:25Maksud jangan-jangan secara informal juga berbicara
03:28dengan kader-kader PD perjuangan.
03:30Tapi kalau Bung Ansih ini,
03:32kalau membaca psikologis politiknya,
03:34pasti ingin Pak Jokowi itu head to head dong,
03:372029 dengan 08.
03:39Kalau kerjasama kembali,
03:40rasa-rasanya nggak terlampau suka beliau ini.
Komentar

Dianjurkan